Ads Top

Gaza dan Iran di Bawah Tekanan Berbeda

Krisis ekonomi yang melanda Gaza dan Iran sering disamakan sebagai akibat sanksi dan tekanan geopolitik. Namun jika ditelaah lebih dalam, keduanya mengalami bentuk pencekikan yang sangat berbeda, baik dari sisi mekanisme maupun dampak terhadap kehidupan masyarakat.

Iran menghadapi krisis yang terutama bersifat moneter. Nilai mata uang rial terdepresiasi tajam, inflasi melonjak, dan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional terus melemah. Gejolak ini memicu protes sosial dan ketidakstabilan ekonomi internal.

Gaza, sebaliknya, tidak mengalami krisis moneter klasik. Wilayah ini di bawah Palestina bahkan tidak memiliki mata uang nasional sendiri. Transaksi sehari-hari menggunakan shekel Israel, dolar AS, atau dinar Yordania, sehingga tidak ada “mata uang Gaza” yang bisa runtuh.

Masalah utama Gaza, yang kini menjadi korban genosida Israel, bukan uang, melainkan barang. Keluar-masuk logistik, bahan baku, dan komoditas strategis dikontrol ketat oleh Israel melalui perbatasan darat, laut, dan udara. Inilah yang membuat perekonomian Gaza tercekik dari sisi fisik.

Di Iran, barang sebenarnya masih tersedia. Pasar tetap berjalan, industri tetap hidup, dan perdagangan internasional masih berlangsung meski melalui jalur tidak langsung. Namun daya beli rakyat runtuh karena nilai uang yang terus menyusut.

Di Gaza, situasinya terbalik. Bantuan uang tunai bisa masuk, gaji bisa dibayarkan, dan donasi internasional mengalir. Tetapi uang itu sering tidak bisa dikonversi menjadi pembangunan nyata karena semen, besi, dan bahan bangunan tidak diizinkan masuk.

Krisis Iran dipicu oleh sanksi finansial yang membatasi akses perbankan, cadangan devisa, serta transaksi internasional. Rial melemah karena tekanan struktural dan ekspektasi publik yang negatif.

Gaza menghadapi blokade logistik yang menyeluruh. Bahan bangunan, bahan bakar, mesin, bahkan beberapa jenis makanan dikategorikan sebagai barang berisiko dan memerlukan izin khusus yang sering kali ditolak.

Ketika rumah-rumah hancur di Gaza, dana rekonstruksi bisa tersedia di atas kertas. Namun tanpa izin perbatasan, proyek tersebut berhenti total, menciptakan paradoks antara ketersediaan dana dan nihilnya hasil fisik.

Di Iran, pemerintah masih bisa merancang kebijakan ekonomi seperti subsidi, kontrol harga, perdagangan barter, hingga penjualan minyak ke negara-negara sahabat. Semua itu mustahil dilakukan di Gaza yang tidak memiliki kedaulatan ekonomi.

Krisis moneter Iran memunculkan fenomena “pelarian aset”, di mana masyarakat beralih ke dolar, emas, dan properti. Ini mempercepat kejatuhan rial dan memperparah inflasi.

Gaza tidak mengalami pelarian aset semacam itu. Masalahnya bukan kepercayaan pada uang, melainkan keterputusan total dari rantai pasok global dan regional.

Iran tetap memiliki pelabuhan, bandara, dan wilayah industri. Meski diawasi dan dibatasi, infrastruktur tersebut masih bisa dimanfaatkan untuk menopang ekonomi nasional.

Gaza tidak menguasai pelabuhannya secara penuh, tidak memiliki bandara operasional, dan perbatasannya ditentukan pihak luar. Ini menjadikan ekonomi Gaza sangat rapuh dan bergantung pada keputusan politik.

Dampak sosialnya pun berbeda. Di Iran, krisis moneter memicu demonstrasi karena harga naik dan tabungan menyusut. Di Gaza, penderitaan bersifat kronis dan kolektif, dengan kerusakan fisik yang tak kunjung pulih.

Dari sudut pandang ekonomi, Iran mengalami krisis nilai, sementara Gaza mengalami krisis akses. Keduanya sama-sama menghancurkan, tetapi bekerja melalui jalur yang sangat berbeda.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa sanksi tidak selalu bekerja dengan cara yang sama. Tekanan terhadap mata uang berbeda dampaknya dengan kontrol penuh atas pergerakan barang dan manusia.

Oleh karena itu, solusi ekonomi Iran dan Gaza tidak bisa disamakan. Stabilitas mata uang mungkin membantu Iran, tetapi tidak akan mengubah situasi Gaza selama blokade tetap berlaku.

Gaza membutuhkan pembukaan akses fisik untuk memulihkan ekonomi, sementara Iran membutuhkan stabilitas moneter dan kepastian hubungan ekonomi internasional.

Kesimpulannya, Iran dan Gaza sama-sama hidup di bawah tekanan besar, namun dengan karakter yang berbeda. Iran tercekik oleh krisis uang, sedangkan Gaza lumpuh karena krisis barang. Dua wajah penderitaan ekonomi ini menunjukkan bahwa dalam geopolitik modern, kehancuran tidak selalu datang dari kemiskinan, tetapi dari hilangnya kendali atas alat-alat dasar kehidupan ekonomi.

Tidak ada komentar:

Ads Inside Post

Diberdayakan oleh Blogger.