Ads Top

Gubernur Hadramaut Gelar Operasi Pembersihan Milisi STC di Yaman


Gubernur Hadramaut, Salim Al-Khanbashi, memimpin langsung operasi Camps Handing Operation yang menandai proses pengambilalihan dan penyerahan sejumlah kamp militer strategis di wilayah Hadramaut. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat kendali otoritas lokal, menutup potensi kekosongan keamanan, serta memastikan transisi pengelolaan kamp berjalan tertib di bawah struktur negara dan aparat resmi yang sah.
Operasi tersebut dipandang sebagai titik krusial dalam menjaga stabilitas Hadramaut di tengah dinamika keamanan yang sensitif. Dengan keterlibatan langsung Gubernur Al-Khanbashi, pemerintah daerah mengirimkan sinyal kuat bahwa proses serah terima kamp tidak hanya bersifat teknis-militer, tetapi juga keputusan politik dan administratif yang bertujuan mengokohkan kewibawaan negara, menjaga keamanan warga, serta mencegah munculnya aktor bersenjata di luar kendali hukum.

Gambaran

Dalam operasi militer seperti di Hadramaut, makan dan minum pasukan tidak dilakukan secara acak, tetapi melalui sistem logistik berlapis yang sudah direncanakan sebelumnya. Baik pasukan STC dari Aden maupun pasukan PLC dari Marib menggunakan pola yang kurang lebih serupa.

Pertama, setiap pasukan membawa ransum lapangan. Ini biasanya berupa makanan siap saji militer, biskuit berenergi tinggi, makanan kaleng, kurma, serta air minum kemasan. Ransum ini dirancang untuk bertahan 24–72 jam, sehingga pasukan tetap bisa bergerak siang malam tanpa bergantung pada fasilitas umum.

Kedua, ada titik-titik logistik atau pos persinggahan di sepanjang rute. Untuk pasukan STC dari Aden, titik logistik biasanya berada di wilayah yang sudah mereka kuasai atau memiliki simpatisan, seperti sebagian daerah Abyan, Shabwa, atau pesisir Hadramaut. Di titik ini tersedia air, makanan panas sederhana, bahan bakar, dan pergantian awak.

Ketiga, dukungan dari satuan lokal. Saat memasuki wilayah yang memiliki pasukan sekutu atau pasukan lokal (misalnya unit keamanan Hadramaut tertentu), mereka sering mendapat bantuan konsumsi, dapur lapangan, atau pengisian logistik sementara.

Keempat, logistik bergerak. Dalam operasi besar, ada kendaraan khusus logistik yang mengikuti iring-iringan pasukan. Kendaraan ini membawa air galon, makanan, dan perlengkapan medis. Untuk perjalanan malam, distribusi sering dilakukan secara cepat dan terpisah agar tidak menghambat pergerakan utama.

Kelima, air minum adalah prioritas utama, bukan makanan. Di wilayah gurun seperti Hadramaut, pasukan bisa menunda makan tetapi tidak bisa tanpa air. Karena itu, setiap prajurit biasanya membawa beberapa liter air pribadi, ditambah cadangan di kendaraan.

Keenam, makan tidak selalu teratur. Dalam kondisi siaga atau potensi kontak senjata, pasukan sering makan sambil bergerak, makan singkat di pinggir jalan, atau hanya mengonsumsi makanan kering dan minuman energi.

Ketujuh, tidak bergantung pada warga sipil. Dalam operasi serius, pasukan dihindarkan mengambil makanan dari warga untuk mencegah gesekan sosial, kebocoran informasi, dan tuduhan pelanggaran.

Kedelapan, untuk pasukan PLC dari Marib, jalur logistik lebih panjang, sehingga mereka sangat bergantung pada ransum awal, kendaraan suplai, serta titik-titik aman yang sudah diamankan sebelumnya di gurun dan dataran tinggi.

Singkatnya, mereka makan dan minum dari ransum militer, dapur lapangan, dan logistik bergerak, bukan berhenti bebas seperti perjalanan sipil. Dalam operasi militer, logistik adalah “urat nadi perang”: tanpa makan dan air, pasukan tidak bisa bertempur meski persenjataannya lengkap.

Mengenai BBM

BBM justru lebih krusial daripada makanan dalam operasi Hadramaut. Tanpa BBM, pasukan tidak bisa bergerak, menarik senjata berat, atau menjaga suplai air. Polanya umumnya seperti ini:

Pertama, setiap kendaraan berangkat dengan tangki penuh dan jeriken cadangan. Truk militer, rantis, dan pickup tempur biasanya membawa beberapa jeriken solar atau bensin. Ini adalah standar operasi, terutama untuk perjalanan gurun jarak jauh.

Kedua, konvoi BBM khusus. Dalam operasi besar, selalu ada kendaraan logistik yang isinya hampir murni BBM. Kendaraan ini tidak berada di depan, tetapi di tengah atau belakang konvoi dengan pengamanan ketat karena menjadi target paling vital.

Ketiga, titik pengisian sementara (fuel point). Di jalur Aden–Abyan–Shabwa atau Marib–al-Jawf–Hadramaut, biasanya sudah disiapkan titik aman untuk isi ulang. Bisa berupa depot kecil, gudang tertutup, atau lokasi yang diamankan sementara oleh pasukan pendahulu.

Keempat, memanfaatkan depot lokal yang sudah “clear”. Jika memasuki kota atau pangkalan yang sudah diamankan, pasukan bisa mengisi BBM di fasilitas yang ada, baik depot militer maupun sipil, tetapi selalu di bawah kontrol bersenjata.

Kelima, dukungan eksternal. Untuk STC, ada jalur pasokan dari pelabuhan dan gudang di Aden. Untuk PLC, pasokan BBM banyak bergantung pada logistik Marib dan jaringan pendukungnya. Dalam beberapa kasus, pasokan ini dibantu sekutu regional secara tidak langsung.

Keenam, manajemen konsumsi ketat. Mesin tidak dibiarkan hidup lama, konvoi diatur kecepatan optimal, dan kendaraan yang tidak vital sering ditinggal atau diparkir di titik aman untuk menghemat BBM.

Ketujuh, prioritas kendaraan. BBM lebih dulu dialokasikan untuk kendaraan tempur, ambulans, dan logistik air. Kendaraan non-krusial bisa dihentikan operasionalnya jika suplai menipis.

Kedelapan, jika BBM terputus, operasi praktis lumpuh. Pasukan tidak bisa rotasi, evakuasi korban, atau menggeser senjata berat. Karena itu, jalur BBM selalu jadi target utama dalam konflik.

Intinya, BBM mengalir lewat jalur yang sama pentingnya dengan senjata, dan sering kali dijaga lebih ketat daripada markas komando. Dalam konteks Hadramaut, siapa yang menguasai jalur BBM, dialah yang menguasai tempo operasi.

Istirahat

Dalam operasi militer seperti pergerakan pasukan STC dari Aden dan pasukan PLC dari Marib menuju Hadramaut, tidur dan istirahat dilakukan sangat terbatas dan terkontrol, tidak seperti perjalanan sipil. Polanya umumnya sebagai berikut:

Pertama, istirahat bergilir di dalam konvoi. Banyak prajurit tidur sambil duduk di kendaraan saat konvoi berhenti singkat atau melaju pelan. Ini umum terjadi pada perjalanan panjang siang–malam, terutama di gurun.

Kedua, berhenti di titik aman yang sudah dipetakan. Biasanya berupa pangkalan militer, kamp lama, pos keamanan, atau fasilitas yang sudah dikuasai sekutu. Di tempat inilah pasukan bisa turun, shalat, makan, dan tidur singkat.

Ketiga, tidur di alam terbuka. Di wilayah gurun Hadramaut, prajurit sering tidur langsung di tanah, di balik kendaraan, di wadi (lembah kering), atau di dataran tinggi. Alasnya bisa sekadar terpal, selimut militer, atau bahkan tanpa alas.

Keempat, tidur tanpa membuka sepatu dan perlengkapan. Dalam kondisi siaga, senjata tetap di tangan atau dalam jangkauan. Helm sering tidak dilepas, dan waktu tidur bisa hanya 1–3 jam.

Kelima, sistem jaga bergilir. Tidak semua pasukan tidur bersamaan. Selalu ada yang berjaga, mengamankan perimeter, dan mengawasi pergerakan sekitar untuk mencegah penyergapan atau sabotase.

Keenam, memanfaatkan bangunan kosong. Di beberapa wilayah, pasukan bisa beristirahat di sekolah kosong, gudang, rumah tidak berpenghuni, atau fasilitas pemerintah, tetapi tetap dengan pengamanan ketat dan waktu singkat.

Ketujuh, tidak tidur lama sebelum objektif tercapai. Dalam fase pergerakan menuju target, istirahat hanyalah untuk menjaga fisik tetap hidup, bukan untuk pemulihan penuh. Tidur panjang biasanya baru dilakukan setelah wilayah tujuan diamankan.

Kedelapan, komandan menentukan durasi istirahat. Waktu tidur ditentukan oleh situasi medan, ancaman, dan kondisi pasukan. Kadang seluruh pasukan hanya tidur total 3–5 jam dalam 24 jam.

Kesimpulannya, mereka tidur di mana aman, sebentar, dan bergiliran. Dalam operasi militer, tidur bukan soal kenyamanan, tetapi soal bertahan dan tetap siap tempur.

Tidak ada komentar:

Ads Inside Post

Diberdayakan oleh Blogger.