Gubernur Raqqa Suriah Bahas Pembangunan Bersama Kepala Suku
Pada 22 Januari 2026, Gubernur Raqqa, Abdul Rahman Al-Salama, menggelar pertemuan penting dengan tokoh dan perwakilan suku Arab dan Kurdi di wilayah tersebut. Acara ini turut dihadiri oleh Jihad Issa Al-Sheikh, penasihat Presiden Republik untuk urusan suku dan klan, serta sejumlah pejabat tinggi.
Foto-foto yang dirilis menampilkan momen hangat, saat Al-Salama mengenakan jubah tradisional Arab menjabat tangan seorang tokoh berpakaian formal Barat. Bendera Suriah berkibar di belakang, sementara dekorasi bunga dan kursi tersusun rapi menambah suasana formal.
Menurut pengumuman resmi Pemerintahan Raqqa di X (@raqqaaGov1), pertemuan ini bertujuan memperkuat kerjasama antar suku, seiring proses rekonstruksi pasca-konflik di Suriah timur laut. Raqqa, yang sebelumnya menjadi pusat kekuasaan ISIS, kini menjadi fokus pembangunan.
Al-Salama dikenal sebagai figur yang berupaya menyatukan elemen masyarakat beragam di Raqqa. Kehadirannya menegaskan komitmen pemerintah transisi Suriah terhadap inklusivitas etnis dan perdamaian sosial.
Jihad Issa Al-Sheikh memainkan peran penting dalam mediasi urusan suku. Ia sering menjadi jembatan antara pemerintah pusat dan komunitas lokal, terutama di wilayah sensitif seperti Raqqa.
Para perwakilan suku Arab dan Kurdi hadir mewakili berbagai klan, menunjukkan upaya mengatasi ketegangan historis. Langkah ini dianggap bisa membuka jalan menuju stabilitas pasca-konflik antara SDF dan pasukan pemerintah.
Namun, pertemuan ini juga memicu sorotan. Beberapa pengamat menilai ini sebagai upaya pemerintah untuk lebih mengintegrasikan wilayah timur laut ke dalam struktur nasional setelah kemajuan militer baru-baru ini.
Postingan di X telah dilihat lebih dari 10.000 kali, mendapat ratusan like dan retweet. Hal ini menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap dinamika politik di Raqqa.
Dalam konteks yang lebih luas, Suriah memasuki fase transisi setelah jatuhnya rezim Assad. Pertemuan seperti ini bisa menjadi katalisator untuk dialog nasional yang lebih luas.
Meski demikian, ada kekhawatiran bahwa pertemuan ini sekadar formalitas, tanpa tindak lanjut konkret untuk isu-isu penting seperti rekonstruksi infrastruktur dan keamanan.
Raqqa, sebagai kota strategis, memiliki potensi ekonomi besar dari sektor minyak dan pertanian. Persatuan suku bisa mendorong masuknya investasi asing ke wilayah ini.
Pemerintah transisi Suriah menekankan pentingnya rekonsiliasi etnis untuk mencegah konflik baru. Foto kedua dalam postingan menunjukkan kelompok yang lebih luas, menandakan representasi beragam.
Analis politik menilai kehadiran Al-Sheikh menambah bobot pertemuan, mengingat ia dikenal sebagai mediator ulung di wilayah konflik.
Pertemuan ini berlangsung di tengah tuduhan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di tingkat lokal, yang kerap menjadi sorotan media sosial.
Kehadiran elemen Kurdi di pertemuan juga bisa menjadi sinyal positif bagi komunitas minoritas yang sebelumnya merasa terpinggirkan selama konflik.
Secara internasional, langkah ini berpotensi menarik perhatian negara-negara seperti Turki dan AS, yang memiliki kepentingan strategis di timur laut Suriah.
Akhirnya, pertemuan ini mengingatkan pentingnya dialog dalam membangun Suriah baru, meski tantangan masih sangat besar.
Reaksi di X menunjukkan polarisasi publik, dengan sebagian mendukung dan sebagian lagi mengkritik langkah pemerintah. Postingan ini viral di kalangan warga Suriah, mencerminkan harapan sekaligus kekhawatiran masyarakat.
Komentar-komentar di bawah postingan memperlihatkan kecemasan warga Raqqa terhadap isu korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan potensi kembalinya figur kontroversial.
Beberapa komentar menyoroti perlunya memecat pejabat yang dianggap berpihak pada suku tertentu, mencegah eskalasi konflik. Lainnya menekankan tanggung jawab moral gubernur terhadap pengkhianatan masa lalu dan kolaborasi dengan SDF.
Tuntutan reformasi radikal terlihat jelas, di mana masyarakat berharap menjauhkan elit lama dari kekuasaan, menggantinya dengan figur kompeten dan berintegritas.
Secara keseluruhan, komentar-komentar ini didominasi kritik mendalam terhadap elit suku dan pejabat lokal, mencerminkan trauma konflik panjang dan keinginan warga Raqqa akan akuntabilitas serta reformasi sejati.
Debat ini memiliki potensi memengaruhi kebijakan pemerintah transisi jika suara masyarakat terus bergaung di media sosial.
Baca selanjutnya








Tidak ada komentar:
Posting Komentar