Pesawat Tempur Yaman Kembali Terlihat, Tantangan Logistik dan Strategi
Kemunculan mendadak skuadron pesawat tempur di pangkalan Al-Anad, provinsi Lahij, Yaman, menjadi perhatian pengamat militer internasional. Setelah lebih dari sepuluh tahun disembunyikan, pesawat-pesawat ini kembali terlihat, memicu spekulasi tentang kesiapan operasional Angkatan Udara Yaman.
Sejak perang Yaman-Houthi meletus, banyak pesawat tempur Yaman ditinggalkan di pangkalan karena perubahan kendali wilayah dan keterbatasan logistik. Pangkalan Al-Anad sendiri sempat berganti tangan antara pemerintah PLC, milisi STC, dan dukungan UAE, membuat pemeliharaan rutin menjadi hampir mustahil.
Sumber dari militer Yaman menyebutkan bahwa pesawat-pesawat ini sebagian besar terdiri dari MiG-21, Su-22, dan F-5 buatan era Soviet atau AS. Umur pesawat yang sudah tua, ditambah kurangnya suku cadang, membuat operasional penuh menjadi tantangan besar.
Selama lebih dari satu dekade, sebagian besar armada disembunyikan atau dibiarkan terbengkalai. Kekurangan teknisi, bahan bakar, dan amunisi membuat Angkatan Udara hampir kehilangan kemampuan untuk mengoperasikan skuadron secara nyata.
Penyebab utama ketidakaktifan pesawat ini juga terkait dengan penguasaan wilayah oleh STC dan dukungan UAE. Kedua pihak memiliki kontrol pangkalan strategis dan logistik, sehingga pemerintah PLC Yaman kesulitan melakukan pemeliharaan rutin.
Meski demikian, teknisi pemerintah PLC Yaman masih ada, meskipun jumlahnya terbatas. Mereka memiliki pengetahuan untuk melakukan perbaikan dasar dan memulihkan satu atau dua pesawat untuk tujuan pelatihan atau demonstrasi kemampuan.
Strategi yang memungkinkan adalah menggunakan kaibalisme spare part—mengambil suku cadang dari pesawat yang tidak lagi bisa diperbaiki untuk menghidupkan pesawat lain. Metode ini bisa membuat satu atau dua unit kembali terbang dalam jangka waktu beberapa bulan, tergantung ketersediaan teknisi dan bahan bakar.
Meskipun demikian, efektivitas tempur skuadron tetap rendah. Pesawat yang dihidupkan sebagian besar hanya layak untuk pelatihan pilot atau misi simbolik, bukan operasi perang penuh melawan Houthi atau milisi lokal.
Menghidupkan satu atau dua pesawat untuk pelatihan justru dianggap strategi bijak. Pilot dan teknisi bisa mempertahankan keterampilan dasar mereka sambil menunggu rencana modernisasi armada. Pelatihan ini menjaga kapasitas manusia yang kritis dalam Angkatan Udara Yaman.
Ke depan, rencana donasi pesawat JF-17 dari Saudi, yang dibeli dari Pakistan, menjadi titik harapan utama. Pesawat modern ini diharapkan menggantikan armada tua dan memberikan kemampuan tempur yang lebih realistis.
Dalam konteks ini, menghidupkan satu atau dua pesawat MiG atau Su-22 sementara waktu menjadi jembatan pelatihan. Pilot dapat membiasakan diri dengan prosedur lepas landas, pendaratan, dan manuver dasar, sehingga saat JF-17 tiba, mereka siap mengoperasikan pesawat modern.
Kondisi Al-Anad saat ini menunjukkan kompleksitas logistik Yaman. Bahan bakar, peralatan perawatan, dan suku cadang harus diimpor, sementara konflik membuat jalur pasokan sering terputus.
Selain itu, pesawat tua memiliki risiko tinggi. Sistem hidrolik, avionik, dan mesin sudah menua. Menghidupkan kembali pesawat tanpa perbaikan menyeluruh bisa berujung kecelakaan atau kerusakan permanen.
Namun simbolik, munculnya pesawat ini memberikan pesan politik dan moral. Pemerintah PLC bisa menunjukkan bahwa mereka masih memiliki Angkatan Udara aktif, meskipun terbatas, di tengah persaingan dengan STC dan kekuatan lokal lainnya.
Di sisi teknisi, pengalaman puluhan tahun menjadi modal penting. Mereka mampu memanfaatkan spare part seadanya, memperbaiki mesin, dan menghidupkan sistem avionik sederhana untuk keperluan pelatihan.
Pemerintah Yaman perlu merencanakan rotasi teknisi dan pelatihan internal agar kemampuan mengoperasikan pesawat tua tidak hilang. Tanpa praktik rutin, keterampilan akan cepat menurun, dan armada modern yang akan datang sulit dimanfaatkan secara efektif.
Rencana modernisasi dengan JF-17 juga membutuhkan kesiapan infrastruktur. Hangar, peralatan diagnostik, dan simulator pilot harus siap agar transisi dari armada tua ke pesawat baru berjalan mulus.
Kesiapan logistik dan pelatihan ini menjadi kunci bagi kemampuan tempur jangka panjang. Sementara itu, pengaktifan pesawat tua menjadi solusi pragmatis menghadapi keterbatasan sumber daya saat ini.
Dengan strategi ini, pemerintah Yaman berharap menjaga kontinuitas Angkatan Udara sambil menunggu armada baru. Pesawat tua bukan hanya alat tempur, tetapi juga alat pelatihan, simbol kedaulatan, dan pesan politik.
Akhirnya, kemunculan pesawat tempur di Al-Anad menjadi tanda bahwa meskipun perang memecah negara, pemerintah PLC Yaman masih memiliki kapasitas untuk mempertahankan kemampuan militer, melatih SDM, dan menyiapkan armada modern masa depan.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar