Ads Top

Indonesia akan Produksi Drone Canggih Bersama UEA

Kemungkinan produksi drone canggih Uni Emirat Arab di Indonesia mulai mengemuka seiring menguatnya kerja sama strategis antara EDGE Group dan Republikorp. Kolaborasi ini dinilai membuka jalan bagi keterlibatan subkontraktor Indonesia dalam produksi wahana nirawak generasi terbaru.

Perhatian publik tertuju pada Jeniah, sebuah jet-powered unmanned combat air vehicle atau UCAV yang dipamerkan secara mencolok oleh EDGE Group pada pameran pertahanan IDEX 2025 di Abu Dhabi. Penampilan tersebut menandai kesiapan EDGE membawa produk unggulannya ke panggung global.

Jeniah dikembangkan oleh anak usaha EDGE, Abu Dhabi Autonomous Systems Investments Co atau ADASI. Proyek ini berlangsung selama tiga tahun dan mencapai tonggak penting dengan penerbangan perdana pada 15 Maret 2024 di fasilitas uji Xrange, sekitar 100 kilometer barat daya Abu Dhabi.

Sebelum tampil dalam bentuk nyata, maket Jeniah sempat diperkenalkan pada IDEX 2023. Hal ini menunjukkan pengembangan yang terstruktur dan konsisten hingga mencapai fase demonstrasi penuh di tahun berikutnya.

Sebagai UCAV berkecepatan tinggi dan berjejak radar rendah, Jeniah dirancang untuk memenuhi beragam kebutuhan misi tempur modern. EDGE menyebut wahana ini mampu membawa berbagai jenis muatan persenjataan dalam satu platform terpadu.

Secara fisik, Jeniah memiliki panjang sekitar 11 meter dengan bentang sayap 7 meter. Bobot lepas landas maksimalnya mencapai 4.000 kilogram, menempatkannya dalam kelas drone tempur berat.

Desain aerodinamis Jeniah menonjol melalui sayap trapesium, sirip ekor yang sangat miring, serta saluran masuk udara jet yang menyapu ke depan. Konfigurasi ini memperkuat dugaan adanya ruang senjata internal demi menjaga karakteristik siluman.

EDGE mengklaim Jeniah mampu melaju dengan kecepatan jelajah hingga Mach 0,7 dan kecepatan maksimum lebih dari 1.000 kilometer per jam. Kapasitas muatan yang bisa dibawa mencapai 480 kilogram, meski detail teknis lainnya masih dirahasiakan.

Salah satu aspek yang paling menarik perhatian analis adalah mesin jet yang digunakan Jeniah. Hingga kini, EDGE belum mengungkap jenis atau asal powerplant tersebut, memicu spekulasi terkait tingkat kemandirian teknologi yang dimiliki.

Di tengah sorotan terhadap Jeniah, EDGE menandatangani perjanjian kerja sama strategis dengan Republikorp pada Dubai Airshow 2025. Kesepakatan ini disebut sebagai program internasional terbesar yang pernah dijalankan oleh EDGE.

Nilai kerja sama tersebut mencapai USD 7 miliar dengan skema pembiayaan dan pengadaan yang didukung langsung oleh Uni Emirat Arab. Paket ini ditujukan untuk mendorong modernisasi pertahanan Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian industri.

Ruang lingkup kerja sama mencakup transfer teknologi, produksi terlokalisasi, pengembangan bersama, serta program modernisasi menyeluruh bagi TNI. Skema ini membuka peluang produksi sistem canggih, termasuk drone, melalui fasilitas di Indonesia.

Selain sistem udara nirawak, portofolio kerja sama meliputi sistem pertahanan udara SKYKNIGHT, kendaraan tempur infanteri generasi baru, kapal rudal siluman tanpa awak, pertahanan siber, hingga produksi amunisi senjata ringan.

Dalam konteks ini, keterlibatan subkontraktor Indonesia menjadi kunci. Produksi komponen, perakitan akhir, hingga pemeliharaan sistem berpeluang dilakukan di dalam negeri sebagai bagian dari rantai pasok global EDGE.

Jika model ini diterapkan pada Jeniah atau platform drone lainnya, Indonesia berpotensi menjadi basis produksi regional untuk UAV dan UCAV buatan UAE. Langkah tersebut akan meningkatkan nilai tambah industri pertahanan nasional.

Managing Director dan CEO EDGE, Hamad Al Marar, menyebut kerja sama ini sebagai tonggak penting dalam ekspansi internasional perusahaannya. Ia menegaskan komitmen EDGE terhadap kolaborasi jangka panjang dan alih teknologi yang nyata.

Sementara itu, Group Chairman Republikorp, Norman Joesoef, menilai kemitraan ini sebagai langkah besar menuju otonomi pertahanan Indonesia. Ia menekankan bahwa investasi tidak hanya pada sistem, tetapi juga pada pengembangan sumber daya manusia.

Produksi drone canggih di Indonesia melalui skema subkontrak akan memberi dampak strategis. Selain memperkuat kemampuan militer, langkah ini juga membuka lapangan kerja dan mempercepat penguasaan teknologi tinggi.

Namun, realisasi produksi akan sangat bergantung pada implementasi transfer teknologi dan kesiapan infrastruktur industri dalam negeri. Tanpa itu, kerja sama berisiko berhenti pada tahap perakitan terbatas.

Jika seluruh rencana berjalan sesuai kesepakatan, Indonesia berpeluang masuk dalam peta produsen UAV dan UCAV global. Jeniah bisa menjadi simbol awal keterlibatan industri nasional dalam teknologi drone tempur berkecepatan tinggi.

Dengan dinamika keamanan kawasan dan meningkatnya kebutuhan alutsista modern, kolaborasi EDGE dan Republikorp menandai babak baru industri pertahanan Indonesia. Produksi drone canggih UAE di dalam negeri kini tidak lagi sekadar wacana, melainkan peluang strategis yang nyata.

Tidak ada komentar:

Ads Inside Post

Diberdayakan oleh Blogger.